Kamera yang biasa kita gunakan untuk mengabadikan suatu obyek memiliki sistem kerja yang menarik, bagaimana sebenarnya sebuah obyek dapat terekam ke dalam film?
Kamera terutama yang analog/manual bekerja dengan konsep seperti yang ditunjukkan gambar. Diafragma, ASA/ISO, dan rana/shutter speed saling berhubungan, seperti sebuah rumus matematika, ketiga hal ini memiliki hitungan agar hasil foto yang didapat sesuai, apakah hasilnya gelap atau terang tergantung dari keahlian Anda mengkombinasikan angka-angkanya.
Diafragma adalah bukaan lensa tempat masuknya cahaya dan aperture adalah lubang penyalur cahaya yang besar kecilnya diatur oleh diafragma. Aturannya adalah semakin kecil diafragma akan semakin besar bukaan aperture maka semakin besar pula cahaya yang masuk.
Urutan untuk angka diafragma adalah
1 – 1,2 – 1,4 – 1,8 – 2 - 2,2 – 2,8 – 3,5 – 4 – 5,6 – 8 – 11 – 16 - dst
Kecepatan rana/shutter speed berhubungan dengan cepat lambatnya bukaan tabir/layar, dimana tabir/layar memiliki fungsi sebagai penghalang agar cahaya tidak mengenai film.
Urutan untuk angka rana adalah
B – 1 – 2 – 4 – 8 – 15 – 30 – 60 – 125 – 250 – 500 – 1000 – 2000 – 4000 – dst
Film sebagai media terbuat dari gabungan plastik gelatin dan halida perak yang peka terhadap sinar. Halida sendiri memiliki fungsi menentukan kualitas gambar. Film mempunyai ukuran kepekaan terhadap sinar yang disebut dengan ASA/ISO. Aturannya adalah semakin tinggi angka ASA, maka semakin peka film, semakin rendah angka ASA semakin kurang kepekaan film, karena itu semakin rendah ASA, semakin banyak cahaya diperlukan.
Namun, kehadiran kamera digital membuat film semakin ditinggalkan, walaupun sebenarnya prinsip digital pun sama seperti Anda menggunakan kamera analog.
0 komentar:
Poskan Komentar